ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
7 Tips Pengasuhan Anak di
Era Digital dari Psikolog Elly Risman
Jakarta - Membesarkan anak di zaman millenial butuh usaha
ekstra dibanding puluhan tahun yang lalu. Perkembangan dunia digital tak hanya memberi
kemudahan, malah kadang membuat gap antara orangtua dan anak. Tak jarang
berakhir dengan anak yang membangkang atau masalah lainnya.
Psikolog dan Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati
Elly Risman berbagi tujuh cara mengasuh anak di era digital yang bisa
dipraktikkan agar hubungan antara orangtua dan anak tetap terjaga.
1. Tanggung Jawab Penuh
Ketika bicara mengenai pola asuh anak, peran
seorang ibu seringkali dianggap hal paling utama. Padahal menurut Elly, sosok
ayah dalam mendidik anak tak kalah penting. Di era digital seperti sekarang
ini, ayah dan ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama
bertanggungjawab atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara
utuh. Masih banyak orangtua muda masa kini yang melepaskan anak-anaknya secara
total di tangan orang ketiga, entah mertua atau pembantu. Namun jika hal ini
terpaksa dilakukan, maka perlu dicek kembali bagaimana sejarah dari orang yang
Anda rekrut untuk menjaga buah hati.
"Sebuah tesis pernah membahas mengenai peran
ayah. Anak-anak yang kurang sosok ayah, dan dia punya anak laki dia nakal,
agresif, narkoba, seks bebas. Anak perempuan biasanya depresi, seks bebas. Jadi
ayah harus selalu ada, pulang kerumah di era digital," ujar Elly di Plaza
Selatan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (26/5/2016).
2. Kedekatan
Perlu adanya kedekatan antara ayah dan anak, juga
ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit,
melainkan jiwa ke jiwa. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering
memeluk sang anak namun juga harus dekat secara emosional. "Banyak anak
yang tidak dapat hal itu dari kecil sehingga jiwanya hampa," tambah Elly.
3. Harus Jelas Tujuan
Pengasuhan
"Dari riset yang saya lakukan untuk ibu 25-45
tahun, bekerja tak bekerja, ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah.
Mereka tidak punya tujuan pengasuhan. Mereka tidak tahu anak ini mau di bawa ke
mana?"
Elly menyarankan agar orangtua mulai merumuskan
tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. Perlu membuat kesepakatan bersama
suami, prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana cara
pendekatannya.
4. Berbicara Baik-baik
Orangtua harus belajar berbicara baik-baik dengan
anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu
membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak.
"Menyalahkan, memerintah, mencap,
membandingkan, komunikasi seperti ini akan membuat anak merasa tak berharga,
tak terbiasa memilih dan tak bisa mengambil keputusan."
5. Mengajarkan Agama
Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya
tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin.
Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur'an
misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara
emosional agar anak menyukai aktivitas itu.
"Jangan kosong dan lalu dimasukkan ke sekolah
agama. Tidak ada dasarnya jika begitu. Bisa dan suka itu berbeda. Bisa hanya
sekadar melakukan, tapi jika suka, ada atau tidak ada orangtua dia akan tetap
baik," tuturnya.
6. Persiapkan Anak Masuk
Pubertas
Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks
dengan anak dan cenderung menghindarinya. Menurut Elly, pembicaraan justru
perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya.
"Kalau sudah keluar air mani, sudah menstruasi,
itu artinya mereka sudah aktif secara seksual dan sudah telat untuk menanamkan
tentang pemahaman seks. Ya jadi suka-sukanya anak, dia bebas melakukan berbagai
macam hal," tambah Elly.
7. Persiapkan Anak Masuk Era
Digital
Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget
sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan
memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah
anak melihat situs yang tidak diinginkan.
"Ajarkan mereka untuk menahan pandangan,
menjaga kemaluan. Karena jika otakmu rusak, kemaluanmu tidak bisa dikendalikan.
Jika kita tidak membicarakan, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap."
tuturnya.
Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget.
Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah. Hal-hal di sekolah
seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal
berat untuknya. Oleh karena itu, Elly menyarankan untuk berkomunikasi tentang
perasaannya. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya
bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan
dengan mudah bercerita pada Anda tiap kali ia merasakan sesuatu.
"Ketika anak dibatasi dia pegang gadget,
orangtua perlu beri alternatif lain. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di
rumah. Contohnya ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang
disukai anak," pungkas Elly.

0 Response to "7 Tips Pengasuhan Anak di Era Digital dari Psikolog Elly Risman"
Posting Komentar