ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Mendidik Anak di Era DIGITAL
Oleh Ibu Elly Risman
![]() |
| Mendidik Anak di Era DIGITAL Oleh Ibu Elly Risman |
Sesi kedua
Tanpa
kita sadari ternyata, anak2 tersebut mendapat banyak pengaruh dari barang2 yang
kita fasilitasi seperti handphone, ipad, tablet, computer/laptop berikut
internetnya, juga TV, DVD, games, hingga komik. Iya. Jangan salah lho, komik,
film kartun hingga games keluaran abad 21 ini. Banyak mengandung unsur
pornografi. Kalau kita merasa, ‘tidak kok, tidak, saya tidak pernah belikan
anak saya komik, DVD dan games’.
Tapi
kan, kita kasih uang jajan juga kan ke anak kita? Apakah jumlahnya berlebih?
Sehingga anak kita bisa dengan bebas beli dan mengkonsumsi apa saja.
Sumber
paling berbahaya barangkali internet. Internet itu seperti toko serba ada. Kita
cari apaaa saja tinggal ketik di Google search, muncul deh beraneka informasi,
tinggal klik, dapat. Mau gambar, video di youtube, informasi apaaa saja ada.
Lalu,
selama ini saya hanya dengar, ooohh, katanya komik dan games sekarang banyak
yang porno lho. Tapi saya belum pernah lihat sendiri. Jadi saya pikir, ah,
paling parah paling2 gambar sepasang muda mudi c*uman. O o… ternyata jaauhh
lebih parah dari dugaan saya.
Ibu
Elly menunjukkan langsung cuplikan gambar komik2, film, video klip dan games
jaman sekarang.
Ya
Allah…
Ternyata
banyak sekali, komik2 Jepang yang menggambarkan adegan tidak senonoh. Persis
sekali dengan banyak kasus pornografi yang banyak terjadi di Indonesia. Dari
gambar adegan bercinta pasangan muda mudi, hingga pasangan sejenis, hingga
melakukannya beramai2, hingga antara orang dengan kuda.
Bagaimana
dengan games? Sama saja parahnya. Atau bahkan mungkin lebih parah, karena
gambarnya bergerak. Apalagi games jaman sekarang gambarnya lebih nyata. Pemain
bisa memilih karakter apa saja yang tidak ada di dunia nyata. Ini seperti
memfasilitasi si pemain untuk merealisasikan imaginasi liar yang ada
dikepalanya ke dalam bentuk visual. Hati2 juga dengan kemasan. Bisa jadi pada
covernya yang terlihat seperti games racing/balapan motor/mobil biasa. Tapi
tunggu hingga pemain menyelesaikan balapannya. Ada lho games yang hadiahnya
pada akhir permainan, yaitu bercinta dengan pelacur jalanan.
Ibu2
yang suka nonton sinetron, harap waspada. Banyak dari sinetron2 yang tayang di
TV adalah sinetron tidak bermutu dan merusak moral dan otak anak2 kita. Ibu
Elly menunjukkan beberapa cuplikan sinetron yang diproduksi beberapa tahun yang
lalu kepada audiens. Eh, ada adegan seorang remaja putri SMA dibully oleh
teman2 sekelasnya dengan disuruh buka baju di dalam kelas. Di cuplikan lain,
seorang remaja putri SMA merayu gurunya dengan duduk di pegangan tangan kursi
di ruang guru, sementara gurunya duduk di kursi tersebut. Di cuplikan lainnya
lagi lebih parah, menggambarkan seorang remaja putra yang tidak dapat
mengendalikan pikirannya akibat menonton b*ue f*lm. Efeknya, perempuan yang
berpakaian dan bertingkah laku biasa pun dalam pandangannya dan benaknya
menjadi berpakaian dan bertingkah laku menggoda.
Dan saya tidak habis pikir bagaimana mungkin pihak TV
menayangkan sinetron2 remaja tersebut pada prime time, atau di
waktu2 anak2/remaja2 belum pada tidur??
Maka
tidak heran kalau beberapa tahun setelahnya kita baca berita mengenai video
m*sum anak SMP di dalam kelas bersama teman2nya. Jangan kaget kalau ada berita
hubungan guru dengan murid. Yang bisa jadi si pelaku malah terinspirasi dari
tontonan di sinetron2 tersebut.
Oh
ya, jangan lupa kalau anaknya senang nonton MTV, banyak video klip dalam dan
luar negeri juga yang menampilkan gaya berpakaian dan tingkah laku tidak
senonoh lho. Begitu pula dengan iklan. Belum lagi tayangan tidak bermutu
semacam YKS berikut goyang Cesar-nya, panggung music macam Dahsyat, dll, yang
becandaannya sama sekali tidak bermutu, obrolannnya tidak bermanfaat. Malah
penuh ejekan, pelecehan. Tingkah laku presenternya yang sangat tidak patut
ditiru.
Belum
lagi acara infotainment yang menampilkan selebriti dengan gaya dan tingkah
lakunya. Bebas melakukan hal2 yang tidak boleh dilakukan dengan orang
yang bukan mahromnya. Atau acara2 talkshow yang menampilkan bintang tamu dengan
pakaian tidak sopan, tanpa sensor.
Ibu
Elly (dan kita semua juga harusnya) sampai geram sekali dengan raja sinetron
Raam Punjabi dan tayangan2 lain tersebut. Bisnis acara TV sudah tidak
memperhatikan lagi dampak buruknya untuk bangsa kita. Ibu Elly bertindak
memerangi ini dengan caranya sebagai psikolog professional beserta yayasannya.
Kita sebagai ibu2 dari anak2 harapan bangsa, do something! Entah kirim surat
protes ke KPI lah agar menghentikan tayangan2 tersebut. Kirim surat ke media.
Kampanye ke ibu2 arisan grup orang tua murid, supaya menjaga anak2nya juga dari
tontonan tidak bermutu tersebut (ingat ya… kan anak2 kita main sama anak2
mereka …). Atau apalah, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan.
Sebenarnya, apa sih yang akan terjadi dengan anak yang rutin
terpapar pornografi hingga kecanduan?
Dr.
Donald Hilton, seorang ahli bedah otak asal San Antonio, Texas, menemukan bahwa
orang yang kecanduan pornografi mengalami kerusakan otak yang sama dengan
dengan orang yang mengalami kecelakan kendaraan. Kecelakaan yang dimaksud yaitu
yang mengakibatkan benturan yang sangat keras pada atas alis kanannya, di mana
terletak prefrontal cortex (PFC).
PFC
adalah bagian otak yang mengatur kemampuan otak untuk berpikir mengenai sesuatu
yang rumit, seperti merencanakan masa depan, memahami dan menganalisa serta
mengevaluasi sesuatu, organisasi. Selain itu juga kontrol diri, konsekuensi
dari suatu perbuatan, ekspresi kepribadian, kemampuan bersosialisasi,
pengambilan keputusan (yang biasanya matang di usia 25 tahun). Bisa dibilang
bahwa PFC adalah direkturnya otak, tempat moral dan nilai.
Kecanduan
pornografi akan mengakibatkan seseorang tidak dapat lagi membedakan mana yang
benar dan salah, mana yang pantas mana yang tidak, juga kehilangan rasa malu
(ingat anak SMP yang melakukan hubungan dengan disaksikan teman2 sekelasnya
sambil direkam). Mereka bisa jadi tega mencuri, menyakiti orang hingga membunuh
karena kerusakan otak itulah yang mengakibatkan mereka melakukan sesuatu tanpa
berpikir dan tanpa menggunakan hati nurani (kehilangan kemampuan berpikir dan
rasa perikemanusiaan). Kecanduan ini sama bahayanya dengan orang yang kecanduan
marijuana, heroin atau kokain. Sama2 mengakibatkan kerusakan otak yang sulit
disembuhkan. Dan bahkan bisa jadi lebih parah. Pernah baca juga, kalau
kecanduan narkoba ‘hanya’ mengakibatkan kerusakan otak pada 3 bagian, kecanduan
pornografi bisa mengakibatkan kerusakan pada 5 bagian otak.
Ngeri
banget ya?
Mungkinkan
banyaknya tindakan criminal dan korupsi di negeri ini, juga orang2 yang tidak
malu2 lagi mengungkapkan aib2 mereka ini juga akibat kecanduan pornografi?
Bagaimana kita bisa mengenali ciri anak yang kecanduan
pornografi?
§
Kalau ditegur gampang marah
§
Impulsive, suka bohong, jorok, moody
§
Suka menyakiti adik
§
Malu tidak pada tempatnya
§
Sulit konsentrasi
§
Kalau bicara menghindari kontak mata
§
Suka menyalahkan orang, emosional,
menutup diri
§
Prestasi akademis menurun
§
Main dengan kelompok tertentu
§
Hilang empati, jika minta sesuatu
harus dipenuhi
Siapa saja sih yang menjadi target/sasaran dari
pengusaha/produsen pornografi?
(Produsen dan pengusaha di sini, menurut saya tidak terbatas
hanya bagi pengusaha komik, novel, film dan games porno, tetapi juga pengusaha
video klip, sinetron (yang ceritanya sekilas drama remaja biasa tapi jika
diamati sebenarnya mengandung banyak hal yang tidak pantas), iklan, film
biasa termasuk film horor yang terselip unsur porno, seperti pemainnya
yang pakai baju seksi atau adegan bermesraan walau tidak terlalu vulgar,
tayangan2 tidak bermutu di TV yang walau judulnya talkshow tapi pakaian2
bintang tamunya tidak sopan, dll)
1. Laki-laki—karena mereka cenderung dominan memakai otak kiri,
sehingga mudah focus
2. Anak2 yang belum baligh
3. Anak2 yang BLAST: Boring Lonely Angry
and Afraid Stress Tired
Mereka
itu anak2 yang barangkali…
…masuk
sekolah terlalu dini (jaman bapak ibu saya, mulai sekolah usia 7 tahun,
langsung SD; jaman saya, mulai sekolah usia 4.5 tahun, pakai TK dulu; jaman
anak saya sekarang, mulai sekolah PAUD mulai usia 3.25 tahun) #fenomena ibu
bekerja yang susah cari pengasuh anak yang baik, lingkungan juga lebih tidak
aman dibanding dulu, jadi anak banyak dipingit di dalam rumah, nah dari pada
anak kami nonton TV atau main games yang bisa bikin kecanduan mending
disekolahkan saja, biar ada kegiatan dan pintar lebih awal#
Mereka
itu anak2 yang barangkali…
…kedua
orang tuanya sibuk bekerja, atau sering dinas keluar kota, sementara jaman
sekarang kebanyakan anak2 punya saudara kandung lebih sedikit, sehingga merasa
sendirian. Bahkan ada beberapa teman2 saya yang kedua orang tuanya berkarier
sehingga bapaknya tinggal di kota A… ibunya tinggal tinggal di kota B… anaknya
dititipkan di eyangnya di kota C. Ketemuan beberapa minggu atau bulan sekali.
Mereka
itu anak2 yang barangkali…
…terlahir di luar nikah atau berasal dari keluarga broken
home… #fenomena semakin banyak kasus perceraian dengan usia pernikahan yang
masih muda#. Bahkan katanya kasus perceraian pasangan muda ini meningkat 400%
(sayangnya saya missed, itu terjadi dalam kurun waktu berapa tahun
dan di mana).
Mereka
itu anak2 yang barangkali…
…marah
dengan kondisi keluarganya yang tidak harmonis namun tidak bisa
mengungkapkannya… atau tidak memiliki hubungan dan pola komunikasi yang baik
dengan orang tuanya… sehingga anak kurang kasih sayang, merasa tidak nyaman dan
aman.
Mereka
itu anak2 yang barangkali…
…terbebani
dengan kurikulum sekolah jaman sekarang yang terlalu berat, UN/UNAS, juga
persaingan yang makin ketat.
Mereka
itu anak2 yang barangkali…
…lelah
dengan semua beban itu dan tuntutan dari orang tua atau lingkungan agar menjadi
anak yang berprestasi dan serba bisa.
Sehingga
mereka butuh media untuk melampiaskan perasaan BLAST itu.
Oh
ya, dalam kesempatan itu juga, ibu Elly menyindir sekaligus protes kepada pihak
sekolah (dalam hal ini kebetulan yang hadir sekaligus sebagai pihak
penyelenggara), yang memberi beban kepada anak didiknya terlalu banyak
#fenomena menjamurnya sekolah full day.
Jam
sekolah anak sudah seperti orang kerja saja, bahkan lebih. Kalau tidak salah SMPIT
HarBun ini masuk jam 7 pagi, pulang jam 4-5 sore. Belum les ini itu. Belum ada
pe-er dan tugas lain. Kapan refreshing-nya?
Ibu
Elly bercerita tentang cucunya yang anak kelas 1 SD, yang mendapat tugas dari
gurunya untuk membuat karangan dengan tema ‘peristiwa penting’. Bayangkan jaman
saya dulu saja SD kelas 1 baru diajar membaca ‘ini ibu budi’. Jaman sekarang
anak lulus TK harus sudah bisa membaca dan menulis. Maksudnya ibu Elly, oke
kalau memang tuntutannya sekarang begitu, tapi kalau anak SD kelas 1 itu
ditugasi mengarang itu mbok ya yang temanya ringan macam ‘sepatuku’ atau
‘bolaku’ gituu.
Sekolah
jaman sekarang juga dipandang ibu Elly terlalu mengurusi yang bukan urusannya,
yang seharusnya merupakan tanggung jawab dari orang tua si anak. Misalnya soal
kesadaran anak untuk sholat dan baca al Qur’an. Aah, saya jadi ingat jaman
sekolah di SD Islam dulu, punya buku kecil yang berisi absen harian sholat 5
waktu dan baca al Qur’an yang harus ditanda tangan orang tua dan seminggu
sekali dikumpulkan kepada guru. Menurut ibu Elly, bukan wewenangnya sekolah
untuk memantau apakah anak didiknya sholat 5 waktu atau tidak, suka baca al
Qur’an atau tidak.
Apa yang mereka (pengusaha/produsen pornografi) inginkan
dari anak2 kita?
1. Punya perpustakaan pornografi di otaknya
2. Kerusakan otak permanen, dan akhirnya…
3. Kecanduan, sehingga menjadi pelanggan seumur hidup produk
mereka (bahkan menurut penelitian anak2 ‘hanya’ perlu 33-36 kali ejakulasi,
mereka bisa jadi pecandu pornografi seumur hidup). Ya, bayangkan saja kalau
anak2 mulai kecanduan sejak usia SD, bukankah itu menjadi future market yang
amat sangat potensial di sepanjang hidupnya, bagi para produsen?
Wah,
wah, sudah sedemikian mengerikannya kah dunia ini? Penuh orang2 biadab. Demi
uangkah mereka melakukan itu, dan tega merusak masa depan anak2 bangsa?
Apa
yang harus kita lakukan sebagai orang tua???
Yuuk,
tarik nafas dalam2 duluuu… dan hembuskan perlahan… sambil berdoa…
‘ya
Allah, semoga itu tidak terjadi pada anak2 kami…’
…to be continued…

0 Response to "Sesi 2 "Mendidik Anak di Era DIGITAL" Oleh Ibu Elly Risman"
Posting Komentar