ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Sesi 3
Mendidik Anak di Era Digital
Oleh Ibu Elly Risman
![]() |
| Mendidik Anak di era Digital |
Orang
tua jaman sekarang, bisa jadi tidak sesusah jaman orang tua mereka dulu dalam
membesarkan anak. Kesejahteraan (secara umum ya, kebanyakan) sudah meningkat.
Bisa dibilang, hari gini, dari tukang becak, bedinde, petani sampai pemulung,
siapa yang tidak punya handphone dan TV di rumahnya? Pekerja bangunan aja
motornya bagus2 (logikanya kan, kalau bisa beli itu semua mestinya makan juga
sudah kenyang kan ya? Anak2nya juga pada sekolah kan ya?). Para ibu juga dan
anak2nya sudah pada pintar2, sekolahnya tinggi2.
Tapi
justru, tantangan bagi orang tua jaman sekarang dalam mendidik anak agar punya
akhlak dan moral yang baik, jauh lebih besar seiring dengan berkembangnya
teknologi.
Sesi
ini nih yang paling penting. Mari dilanjuut…
Bagaimana upaya pencegahan yang bisa kita lakukan untuk
melindungi anak kita dari bahaya pornografi? Apa yang harus kita lakukan untuk
meminimalisir kemungkinan anak bersentuhan dengan pornografi?
Soal internet dan handphone. Orang tua harus mengikuti perkembangan jaman juga… Untuk
yang anaknya sudah agak besar dan mulai kenal internet dan pegang handphone,
kita juga harus menguasai cara berinternet dan mengerti fitur2 yang ada pada
handphone anak kita. Kalau anak punya akun di social media (facebook, twitter,
path, dll), bertemanlah dengan anak kita di situ, kenali
teman-temannya. Sesekali cek riwayat koneksi internetnya, diskusi dengan
mereka, dan ajak anak untuk menggunakan internet dengan bijak. Orang kan akan
mudah menerima masukan ketika sedang senang, dan dalam suasana santai. Maka
jangan melarang mereka ini itu dengan cara mengomel. Bisa saja di depan kita
mereka menurut, tapi malah melakukannya dengan sembunyi2.
Soal bacaan dan komik.
Jangan beli komik sembarangan, dan langsung mengiyakan begitu anak menyodorkan
gambar covernya. Lihat dulu isinya. Ajarkan pula anak membaca berbagai jenis
bacaan seperti: science, petualangan, fiksi yang islami dan atau
mendidik, kisah rasul dan sahabatnya, dll. Sebagai orang tua, tetaplah ingat,
bahwa anak meniru apa yang dilihatnya. Maka, jadilah contoh yang baik, dengan
sering membaca bacaan bermutu (bukan tabloid gossip ya).
Soal games.
Belajar kenal dengan games. Sesekali lihat dan perhatikanketika
anak main games. Tanyakan games apa yang sedang
dimainkannya. Periksa rating/peringkatnya.Banyak lho games bajakan dengan harga
terjangkau dan ratingnya sudah diubah atau tidak sesuai dengan sebenarnya.
Misalnya yang tadinya rating-nya AO (adult only) atau M (mature),
diubah menjadi T (teen).
Tanyakan
dari mana dia mendapatkannya. Diskusikan dampak bermain games, terlebih dalam
jangka waktu yang lama dan sering. Jaman sekarang tidak heran ya, melihat anak
balita jari jemarinya sudah piawai memainkan berbagai jenis gadget, selama
berjam-jam. Padahal yang disarankan, untuk anak usia 4 tahun saja memainkannya
tidak boleh lebih dari 10 menit.
Berikut adalah dampak negative games bagi
kesehatan (jika terlalu sering memainkannya):
1. Menyebabkan kejang lengan (repectitive strain injury)
2. Mengikis lutein pada retina mata (menyebabkan pandangan menjadi
kabur di usia dini)
3. Mencetus ayan/epilepsi
Soal film/TV.
Atur jam TV boleh menyala. Pilih program edukatif yang cocok untuk anak. Tidak
semua film kartun cocok/baik untuk anak lho. Sinchan mencontohkan kelakuan anak
yang nakal dan genit. The Simpsons menampilkan kekerasan. Barbie menampilkan
kecantikan dan kemewahan yang berlebihan. Dan lain2nya. Tayangan Disney Junior
rasanya lebih baik. Tapi tetap ya, pantau, tidak boleh ditonton terus2an. Untuk
anak balita maksimum 2 jam per hari! Sesekali bahas tayangan2 tersebut dengan
anak, apa yang mereka sukai, apa yang tidak. Mengapa mereka suka dan atau
tidak. Jika anak punya pemahaman yang salah, beri pengertian yang benar.
Soal fim bioskop.
Ini untuk anak yang sudah remaja, yang mulai ingin nonton ke bioskop bersama
teman2. Tanyakan, apa perlu ke bioskop? Dengan siapa? Nonton apa? Hati2 dengan
iklan sebelum di tengah dan akhir fim. Diskusikan dampak melihat adegan syur
dalam keadaan gelap dengan teman. Tawarkan alternatif untuk membeli DVD nya dan
menontonnya beramai2 di rumah.
Soal hubungan sosial. Sejak
anak balita, kenalkan bedanya mahram, teman, sahabat, orang asing. Apa yang
boleh dilakukan dan tidak dengan mereka. Ajarkan mereka untuk menjaga tubuhnya
sendiri, dengan mengenalkan sentuhan yang baik, tidak baik, dan membingungkan.
Batasan bagian badan mana yang boleh dipegang orang2 lain itu. Kalau anak sudah
lebih dewasa, ajarkan bagaimana seharusnya hubungan antara laki-laki dan
perempuan yang bukan mahram, hukum pacaran dalam Islam, dsb.
Bagaimana menjelaskan kepada anak soal bagaimana orang bisa
kecanduan pornografi dan bahayanya?
Ini
untuk anak yang sudah agak besar dan bisa diajak komunikasi soal bahaya
pornografi. Apa yang terjadi kalau sudah kecanduan, kenapa kecanduan bisa
terjadi dan kenapa kita harus menjauhinya. Terangkan dengan analogi yang mudah
dimengerti anak. Ibu Elly mencontohkan dengan es krim. Misalnya seperti ini.
Kalau
hari ini kita dibelikan satu buah es krim Walls, bagi yang biasa makan es
puter, es krim Walls pasti terasa lebih enak doong. Setelah habis satu, pasti
ingin nambah lagi. Dibelikan lagi deh es krim Walls. Habis dua buah. Puas.
Kenyang. Besok2nya, kalau punya uang, ingin beli Walls lagi gak? … Iyalah.
Teruus, begitu hingga selama berhari2 berminggu2 makan Walls, kira2 mulai bosan
gak? … Iya ya, sedikit.
Tiba2
ada yang nawarin, es krim Baskin & Robbins. Kira2 terasa lebih enak gak
dibanding Walls?… Tentunya… Coba satu. Enak. Ingin nambah lagi dong. Habis dua
buah. Puas. Kenyang. Besok2nya, kalau punya uang, kira2 inginnya beli Walls
atau Baskin & Robbins? Kalau bisa ya Baskin & Robbins lah ya…Begitu
terus, hingga selama berhari2 berminggu2 makan Baskin & Robbins, kira2
mulai bosan gak? Hmm, iya, agak. Kalau makan Walls lagi, kira2 bagaimana
rasanya? … Biasa saja kali ya… Eh, tiba2 ada yang nawarin, es krim Haagen Dazs.
Bagaimana rasanya…?? Luar biasa. Begitu seterusnya. Kalau sudah biasa makan
Haagen Dazs, terus makan Walls, kira2 yang terasa apa? Tidak ada enak2nya sama
sekali. Bagaimana dengan es puter? Yakkss, ini mah es krim jadi2an.
Kalau
sudah biasa makan es krim Haagen Dazs setiap hari selama bertahun2, lalu
mendadak bangkrut, tidak punya uang untuk beli dan sementara kebutuhan akan es
krim meningkat, kira2 apa yang dilakukan? Bisa jadi mencuri uang untuk bisa
beli es krim. Atau mencuri es krim nya langsung!
Begitu
juga proses kecanduan pornografi. Bisa jadi, bagi remaja lelaki, tadinya deg2an
setiap melihat perempuan berpakaian s*ksi. Lama2 karena seriiing …, jadinya
biasa saja lihat yang begitu, bahkan yang tanpa sehelai benang pun rasanya
biasa. Selanjutnya kira2 remaja lelaki tadi butuh tantangan baru gak yang bisa
buat deg2an lagi? Mungkin gak mencoba yang aneh2, semacam waria, lalu sesama
lelaki, atau bahkan binatang? Bukan tidak mungkin bukan? Selama punya uang, bisa
bayar. Suatu saat kalau pas tidak punya uang tapi kebutuhan memuncak, kira2 apa
yang dilakukan? Bisa jadi memperk*sa orang yang ada di sekitarnya. Tidak peduli
siapa dia. Bisa jadi kerabat dekatnya, atau tetangga, atau muridnya.
Tidak
takut? Tidak malu kalau sampai ketahuan? Tidak mikir panjang apa akibatnya bagi
si pelaku dan korbannya? Kok tega2nya…
Kan
orang yang kecanduan pornografi otaknya rusak… tidak bisa membedakan mana yang
baik dan buruk. Mana bisa berpikir normal??
Bagaimana jika sudah terlanjur terpapar dan kecanduan
pornografi?
Pertama, I know that thas is not easy (honestly,
that is disaster!), but… try as much as you can,
to be…
calm…
tenang…
tenang…
tenang…
jangan
panik, jangan marah.
Terima
musibah ini… (kalau kata Aa Gym, mau tidak terima juga sudah terjadi, sudah ada
tanda terimanya—yaitu otak anak yang rusak).
Selanjutnya, maafkan anak, lalu… minta ampun sama Allah SWT.
Segala sesuatu terjadi atas kehendakNya. Sadari bahwa yang terjadi adalah hasil
dari apa yang kita lakukan. Bahwa kita akan memanen yang kita tanam.
Introspeksi diri. Mungkin ini semua terjadi karena kesalahan kita sebagai orang
tua. Mungkin kita yang kurang perhatian sama anak. Mungkin kita yang terlalu
sibuk dengan pekerjaan dan mencari harta. Mungkin kita yang salah telah
melimpahkan pengasuhan anak pada orang lain. Mungkin kita yang tanpa sadar
memberi makan anak dengan uang yang tidak halal. Mungkin kita yang terlalu
egois tidak mau kehilangan ‘me time’ (bolak balik ibu Elly mengeraskan
suara setiap menyebut soal me time ini)
(Hayo
ngakuu.. siapa yang tidak pernah mengalami–saking begitu asyiknya chat lewat
BBM dan Whatsapp sama teman2, atau facebooking, atau ngeblog atau baca buku,
atau nonton film… sampai2 anaknya dibiarkan main sendirian, bahkan anak2
manggil2 malah kita cuekin..??
… gak ada yang tunjuk jari kan..? gak ada kan??).
Maka,
perbanyak mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, bagi yang beragama Islam,
perbanyak sholat, baca al Qur’an, sedekah, dan bersabar. Ingat, jadikan sabar
dan sholat sebagai penolongmu. Jangan lupa bersyukur. Memang tidak mudah, tapi
dengan melihat para orang tua yang kasus anaknya lebih parah akan membantu kita
untuk bersyukur.
Jangan
berlarut2 sendiri dalam kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan penyesalan. Ingat,
ada anak yang membutuhkan dukungan dan bantuan untuk melepaskan diri dari
kecanduan pornografi. Ajak anak bicara baik2 hingga mau terbuka untuk bicara.
Bisa jadi sulit, kaku dan canggung untuk yang dari awalnya hubungan dengan
anaknya memang tidak dekat. Tidak terbiasa mengobrol, tidak terbiasa
merangkul, tidak terbiasa memeluk. Datang ke ahli adalah salah satu pilihan,
untuk membuka masalah (memancing agar anak mau bicara masalahnya) dan mencari
solusinya. Jika kecanduan sudah cukup parah, memerlukan terapi dari
ahli/terapist/psikolog untuk penanganannya.
Pe-eR
berikutnya, musyawarah dengan pasangan, tindakan apa yang harus dilakukan
sebagai orang tua ke depannya. Misalnya dengan memperbaiki pola pengasuhan dan
komunikasi.
Bagaimana agar pasangan (suami) mau peduli dengan apa yang
kita (ibu2) katakan mengenai masalah anak?
Ibu
Elly sampai memberi trik bicara yang baik dengan para suami yang biasanya cuek
dengan urusan pengasuhan anak. Sepertinya sudah tercetak dari sononya bahwa
urusan ayah itu mencari uang, urusan ibu mengasuh anak. Padahal peran kedua
orang tua sangatlah penting.
Anak
laki2 yang kurang kasih sayang/perhatian/peran ayahnya cenderung menjadi nakal,
terlibat narkoba dan sex bebas. Sementara, anak perempuan cenderung depresi,
dan jika salah pergaulan dapat pula terjerumus dalam kehidupan sex bebas.
Maka ajak ayahnya anak2 untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak.
Oh
ya, trik bicara dengan pasangan yaitu:
1. Pilih waktu yang tepat (kata ibu Elly waktu yang pas itu
setelah kebutuhan suami yang satu itu terpenuhi), dalam suasana santai, perut
sudah terisi dan ketika badan dan mata masih segar.
2. Sampaikan isyu kritis alias point-nya langsung, jangan
bertele2.
3. Rumuskan dalam 1 kalimat, yang terdiri tidak lebih dari 15 kata.
Misalnya kita bisa pancing bilang, ‘ayah, jangan2 anak kita bisa rusak lho
otaknya’. Pasti kan suaminya kaget tuh, dan balik tanya, ‘hah? Maksudnya rusak
otaknya bagaimana?’. Kita kasih jawaban2 pendek dulu. Kan makin bingung tuh,
terus bertanya lagi dan bertanya lagi. Setelah itu ya langsung aja ajak bicara
panjang lebar. Tapi ingat ya jangan bertele2, soalnya lelaki kan cenderung straight
to the point. Bisa bosan dan bingung mereka kalau kita muter2 bicaranya.
Apa yang harus diperhatikan sebelum memulai berdiskusi
dengan pasangan untuk memperbaharui pola pengasuhan?
Life is a journey, kalau
kata orang bilang. Dan setiap perjalanan harus mempunyai tujuan. Membesarkan
anak merupakan bagian dari perjalanan itu. Sebagai orang tua kita harus punya
tujuan dalam membesarkan anak. Bukan hanya menjadikannya sebagai anak pintar,
sukses dalam bidang akademis dan karir saja, tapi ada tujuan yang lebih penting
dan mulia dari itu, yang Allah inginkan dari kita.
Maka dari itu, berikut ini adalah visi dan prinsip
penting yang harus diingat, persiapkan anak menjadi:
§
hamba Allah SWT yang taat,
§
calon istri/suami yang baik,
§
calon ayah/ibu yang baik
§
seorang professional dalam
pekerjaan/karirnya,
§
pendidik (untuk mendidik anak2nya –
dan mendidik istrinya, bagi para suami)
§
penanggung jawab keluarga (bagi
laki2 dalam mencari nafkah dan memimpin keluarganya; bagi perempuan dalam
mengatur rumah tangga dan mengurus suami dan anak2nya)
§
pengayom orang tua di masa tuanya
(terutama untuk anak laki2, ingat, bahwa seorang anak laki2 bertanggung jawab
terhadap ibunya… yang sering terjadi, begitu menikah anak laki2 biasanya pergi
dari rumah dan cenderung lebih dekat istri beserta keluarganya… malah yang
merawat orang tua di masa tuanya kebanyakan adalah anak perempuannya… padahal
anak perempuan yang telah menikah mestinya lebih mengutamakan suaminya daripada
orang tuanya)
§
pendakwah (sebagai muslim, berdakwah
merupakan kewajiban… berdakwah tidak harus ceramah di pengajian…, dengan
menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari2, bukan hanya urusan ibadah
saja, tapi hingga cara kita berpakaian, bergaul, bertetangga, menjaga diri dari
perbuatan sia2 seperti bergunjing, dsb, kita sudah menjadi agen muslim yang
baik… yang juga merupakan bagian dari dakwah)
Jadi, pola pengasuhan seperti apa yang sebaiknya kita
terapkan?
Setelah
pasangan sepakat dengan visi baru dalam mengasuh anak, akan kita bentuk menjadi
seperti apa anak2 kita nantinya,baru deh diskusi bersama pasangan, untuk
memperbaharui pola pengasuhan yang akan terus menerus mengalami perkembangan
jaman. Terapkan langkah2 pola pengasuhan untuk dapat mencapai visi tersebut.
Bekali diri dengan ilmu parenting dan agama sebagai modal dasar sebagai orang
tua.
Sejak masa golden age-nya, bangun kedekatan
dengan anak. Kalau sedang di rumah, luangkan waktu dan perhatian yang
cukup untuk anak. Yang tidak pakai disambi2 melakukan pekerjaan lainnya,
termasuk pekerjaan rumah tangga.
Yeee… gimana dong, ntar siapa yang masak? Siapa yangbersih2
rumah?
Kalau
ibu Elly bilang, kalau perlu dan mampu, katering saja dah… Jadi waktu yang
biasa ibu2 habiskan di dapur bisa dialokasikan untuk anak. Atau, kalau bisa,
mampu, dan ada orang yang bisa dipekerjakan, pekerjakanlah pembantu untuk
mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Agar para ibu tidak terlalu lelah mengerjakan
pekerjaan rumah tangga sehingga masih punya cukup waktu yang berkualitas,
energy dan mood yang baik untuk berinteraksi dengan anak. Karena hubungan itu
dibangun bertahun2. Tidak bisa berubah dalam sekejap. Anak yang tidak terbiasa
mengobrol santai dengan orang tuanya sejak kecil, pasti akan sulit untuk nyaman
memulai bercerita berbagai hal seperti dia bercerita dengan teman akrabnya.
Perbaiki pola komunikasi. Menjadi akrab dengan
anak bukan berarti kita akan kehilangan wibawa kita sebagai orang tua. Tetap
tempatkan diri sebagai orang tua yang perhatian, penuh kasih sayang, namun
tegas dengan menerapkan disiplin (tegas bukan berarti galak
ya). Dengan dibiasakan untuk disiplin, akan memudahkan kita sebagai orang tua
untuk mengatur dan mengendalikan anak serta mengajarinya untuk bersikap dan
bertingkah laku yang baik. Dalam jangka panjang, anak yang terbiasa disiplin
akan memiliki kemampuan self-control yang baik, sehingga
nantinya tidak mudah untuk terpengaruh dan ikut2an teman jika hal itu tidak
sesuai dengan nilai2 kebaikan yang sudah ditanamkan pada dirinya. Disiplin ini
dapat kita mulai dengan membuat peraturan di rumah yang wajib dipatuhi bersama,
misal: soal bangun pagi, jam menonton TV, dsb.
Ajarkan pula anak untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung
jawab. Beri anak tanggung jawab mengenai urusan rumah sesuai usianya. Bisa
dimulai dengan hal kecil semacam membereskan mainannya setelah selesai bermain,
menyalakan lampu pagar dan menutup gorden pada jendela2 menjelang maghrib tiba,
dll. Latih anak2 sejak kecil untuk melakukan sendiri hal2 yang berhubungan
dengan dirinya, seperti menyiapkan isi tas untuk sekolah, menyiapkan pakaian
yang akan dikenakan seusai mandi, menaruh piring kotor setelah makan (dan
mencucinya jika sudah bisa), dll.
Kembangkan pula pada diri anak kemampuan berpikir
kritis. Jangan biasakan mengajukan yes or no questions. Tidak
salah kalau anak hanya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Titik. Biasakan memulai
pertanyaan dengan kata ‘bagaimana’. Pancing lagi dengan pertanyaan2 yang
membantu anak untuk banyak bercerita dan berpikir.
Selanjutnya, para orang tua, janganlah fokus pada
aspek akademis semata. Janganlah yang ditanyakan kepada anak hanya berkisar
seputar soal ‘besok ada ulangan tidak?’, ‘tadi ulangan dapat nilai berapa?’, tadi
siang datang les atau tidak?’, ‘sudah mengerjakan pe-er atau belum untuk
besok?’. Sensitiflah dengan bahasa tubuh anak. Kalau sore2 anak pulang dari
sekolah wajahnya kusut, berikan perhatian. Katakan, wajahnya terlihat lelah dan
tidak bersemangat. Tanyakan, apakah si anak sedang sedih atau kecewa atau
lelah? Lanjut dengan obrolan ‘kenapa?’. Apakah karena terlalu padat
kegiatannya, apakah sedang banyak tugas, apakah sedang butuh refreshing.
Dengarkan keluh kesahnya. Jangan meremehkan bebannya. Bantu dan dukung anak
untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Boleh juga sesekali hibur dan berikan
perhatian dengan, misalnya, memasakkan makanan kesukaannya, dsb.
Ajari anak mengenai konsep harga diri yang baik.
Katakan pada anak (terutama perempuan) bahwa diri dan tubuhnya sangat berharga
dan tidak boleh disentuh sembarangan. Jelaskan dengan analogi barang dagangan
yang murah dan mahal. Barang murah akan ditaruh di kotak bertuliskan ‘obralan’,
dan banyak disentuh orang2, tapi belum tentu dibeli. Barang mahal akan ditaruh
di etalase dan dikunci. Hanya orang2 yang berniat sungguh2 untuk membeli yang
akan meminta penjual toko untuk mengeluarkannya dari etalase.
Ajari
anak jenis2 sentuhan: yang boleh (e.g. belaian pada kepala dan pelukan dari
orang tuanya, dokter yang memeriksanya), sentuhan yang jahat (e.g. seseorang
yang menyentuh area tubuh anak yang tertutup pakaian renang biasa), dan
sentuhan yang membingungkan (e.g sentuhan pada area bahu ke bawah dan lutut ke atas).
Kenalkan pula pada anak konsep mahram, bedanya orang asing, teman, sahabat, dan
saudara.
Last, but not least,
sebagai orang tua di era digital, jangan malas untuk belajar aktif
menggunakan teknologi. Baca pada bagian bagaimana melindungi anak dari bahaya
pornografi pada jawaban dari pertanyaan pertama di atas.
Jadilah orang tua yang kreatif. Pikirkan juga soal kegiatan
alternatif pengganti video games, TV, baca komik, bermain internet, bergadget
ria…
Terutama,
ibu sebagai menteri pendidikan dalam rumah tangga, harus aktif belajar dan
mengembangkan diri serta punya banyak ide. Termasuk mengadakan aktivitas yang
seru untuk anak2nya sendiri.
Yang anak2nya perempuan bisa diajak untuk membuat kue yang
bentuknya lucu2 biar tertarik, dan rasanya disukai anak2. Atau membuat berbagai
prakarya seperti: buku cerita bergambar, puppet show dari
boneka kertas, pembatas buku, meyusun foto dalam bentuk kolase untuk dipajang,
membuat pop-up card, menggambar untuk dipajang di kamar anak2,
membuat kreasi dari barang bekas macam kartu undangan dan baju bekas, menjahit
sederhana, dll.
Untuk
anak laki2, bisa diajak untuk membuat mobil2an dari kaleng atau kotak susu
bekas, membuat perabot dari kayu atau kardus atau kaleng bekas, membuat
bendera, membuat track rally mobil2annya dari kertas karton dan bahan2 prakarya
lainnya, membuat bangunan dari stik es krim bekas, menggambar, dll. Biasakan
pula anak laki2 untuk aktif berolah raga dan beraktivitas di luar rumah (jangan
hanya disuruh les inggris, komputer dan musik saja). Diketahui bahwa laki2
(yang sudah baligh) mempunyai siklus pada alat reproduksinya untuk berproduksi
setiap tiga hari sekali. Dengan berolahraga, dapat meredakan dan mengendalikan
dorongan seksualnya serta mengalihkan pikiran negatifnya.
Ide lain, sesekali ajak pula keluarga berpiknik di hamparan
rumput, camping(baik camping2andi halaman belakang
rumah maupun camping beneran di bumi perkemahan), berkunjung
ke berbagai tempat wisata indoor dan outdoor,
untuk kemudian dibikin tulisan yang disertai gambar2 hasil jepretannya sendiri,
masukkan ke blog (jika anak sudah padai membaca dan menulis).
Untuk para ibu2 bekerja, wanita karir, ibu2 pejabat,
bussines women, wanita2 akademisi yang kecanduan sekolah (terutama di luar
negeri dan meninggalkan anak2nya yang masih kecil2 di tanah air)… perempuan2
hebat yang sibuknya luar biasa…
Mari kita sadari bahwa, bagaimanapun hebatnya kita, jika
Allah sudah menitipkan anak kepada kita.Kita adalah baby sitter-nya
Allah SWT, yang jika bekerja dengan baik, amanah dengan titipanNya, akan digaji
dengan surga. Maka, janganlah tugas kita sebagai orang tua (terutama ibu) untuk
mengasuh, menjaga, medidik dan merawat mereka di sub-kontrakkan lagi kepada
orang lain.
Meskipun
itu ibu kita sendiri…! *tegas bener ibu Elly ngomongnya*
Tubuh
nenek2 tidak dirancang untuk mengasuh cucu. Karena (umumnya) sudah menopause,
tentunya sudah lebih gampang capek, gampang emosi, (mungkin) osteoporosis, asam
urat, dan penyakit2 orang menua lainnya. Sudah cukuplah tugas mereka dahulu
mengasuh kita.
Maka
buat yang sering menitipkan anaknya kepada neneknya (termasuk saya! :D) jangan
protes kalau anaknya jadi manja, kebanyakan nonton tayangan tidak bermutu di TV
dan main games, susah beralih dari minum susu pakai botol ke gelas, jadi galak
karena sering diomeli, susah diatur karena bingung antara aturan berbeda yang
diterapkan neneknya dan orang tuanya sehingga selalu berpihak kepada yang
menguntungkan bagi dirinya.
Apalagi
pengasuhan anak (terutama, balita) diserahkan kepada pembantu… juga bukan
pilihan bijak.
Bagaimana mungkin para ibu yang lulusan sarjana (dan mungkin cum
laude), S1, S2 (bahkan S3), rela berjuang dan berlelah2 kuliah, kemudian
bekerja di kantor, tapi justru menyerahkan pendidikan untuk anak2nya (yang
merupakan tanggung jawab utamanya) kepada mereka para ART/pengasuh yang tingkat
pendidikannya relative rendah, mungkin SMP atau bahkan SD?
Pernahkah ibu2 menghitung, dalam sehari, berapa jam ibu2
bekerja ada di kantor? Dan berapa jam ada di rumah? Berapa jam waktu istimewa
untuk anak2?
(Belum
lagi kalau yang pekerjaannya mengharuskan sering dinas ke luar kota berhari2).
Berdasar
pengalaman, biasanya sekitar 2-3 jam kita bertemu anak di pagi hari. Itu pun
diselang-selingi aktivitas mandi, sarapan, sambil melakukan pekerjaan rumah
tangga, juga persiapan berangkat kerja.Dengan suasana terburu2, sambil
mengomel2, menyuruh anak2 untuk cepat2 makan, siap2 berangkat sekolah, dsb…
Kemudian kita menghabiskan waktu 8-10 jam (or even more!)
bekerja di luar rumah dan perjalanan menuju dan dari tempat kerja (di mana
anak2 balita kita banyak menghabiskan waktunya bersama pengasuh). Baru bertemu
lagi di sore hari menjelang maghrib, di mana kondisi kita sudah lelah, yang
mengakibatkan gampang ngomel2 kalau melihat sesuatu yang tidak beres atau anak
masih pecicilan dan susah diatur… kalau pun kita sempat bercengkrama dengan
mereka biasanya juga disambi melakukan pekerjaan rumah tangga, atau nonton TV,
membaca buku favorit, pegang gadget, dll, dengan alasan ‘me time’… dan
2-3 jam kemudian anak2 sudah tertidur.
Jangan
protes kalau anak balita kita jadi hapal banyak lagu orang dewasa, mengerti berbagai
jenis sinetron dan gossip infotainment, jadi penakut (karena sering ditakut2i
sama hantu oleh si pengasuh, kalau tidak menurut), jadi suka menyalahkan orang
lain (karena kalau jatuh pengasuhnya memukul lantainya sebagai tanda yang salah
itu lantainya), ataungomongtidaksopan, karena ketularan kebiasaan yang
mengasuh, jadi kecanduan games dan TV (karena ketularan si pengasuh).
Jangan salahkan si mbak pengasuh/ART itu ya bu kalau
mengajari anak2 ibu hal2 yang tidak benar dan tidak baik. Harap maklum… kan
mereka bukan orang pandai seperti ibu yang lulusan sarjana dari universitas
ternama… kan mereka bukan lulusan terbaik ketika sekolah… kan mereka
‘hanya’ lulusan SD atau SMP… dan mungkin mereka juga masih bocah belasan tahun
yang masih asyik dengan dunia remajanya… mungkin juga belum pernah punya
anak. Jadi jangan berharap mereka bisa cerdas mengasuh anak kita. Jangan
harap mereka curious dan paham berbagai teori ilmu parenting
seperti kita (apalagi dengan penuh kesabaran menerapkannya kepada anak kita).
Sekali lagi ingat ya… kan mereka ‘hanya’ lulusan SD atau SMP.
Bagaimana kalau kita cari pengasuh yang pandai??
Masalahnya
sekarang bukan lagi urusan bisa bayar atau tidak… Masalahnya, lha wong cari
yang kurang pandai saja susah…
Terus,
kira2 kalau pengasuh itu lulusan sarjana (yang berarti pandai), apa iya mereka
mau bekerja sebagai pengasuh anak orang lain? Lha kita saja (yang ngakunya
lulusan sarjana ini, kebanyakan) lebih memilih untuk bekerja kantoran toh
daripada mengurus anak sendiri?
Mari
yuk salahkan diri kita sendiri yang sudah lalai sebagai ibu… :(((((
Layakkah bekerja untuk mendapatkan materi, status dan
kepuasan pribadi dengan mengorbankan anak?
*thinking*
Kasihan
ya anak2 kita…
Eh,
kalau dipikir2, sebenarnya yang lebih kasihan dan merugi itu kita sendiri
sebagai orang tua… tidak memanfaatkan kesempatan mengasuh dan mendidik anak2
kita sendiri, titipan dari Allah SWT yang merupakan investasi dunia akhirat.
Yang (kalau sukses) bayarannya surga.
Dari sisi agama, sesungguhnya setiap dari kita akan dimintai
pertanggungjawabannya atas segala yang Allah titipkan kepada kita. Entah itu
waktu, tenaga, ilmu, harta, termasuk anak.Dan tanggung jawab utama
seorang wanita yang sudah menikah dan punya anak adalah suami dan anak2nya.
Bukan perkara mencari nafkah (apalagi kalau kebutuhan pokok kita sudah
tercukupi dari penghasilan suami).
Siapkah
kita jika nanti di akhirat ditanya ‘mengapa anakmu tidak mengenal Tuhan-nya?’,
‘mengapa anakmu tidak bisa mengaji?’, ‘mengapa anakmu tidak sholat 5 waktu?’,
‘mengapa anakmu punya akhlak, moral dan iman yang buruk, sehingga banyak
berbuat dosa, banyak menghabiskan waktu untuk hal2 yang sia2?’… akankah kita
menjawab dengan ‘karena saya ibunya, sibuk bekerja, mencari harta sebanyak2nya,
agar anak kami bisa hidup enak,… atau… karena saya ibunya sibuk berkarir,
mencari jabatan agar keluarga kami jadi keluarga terpandang, punya status
terhormat di masyarakat…?
Eh, ini bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja ya.
Tentu
saja boleh asal alasannya tepat. Misalnya, memang untuk memenuhi kebutuhan
ekonomi yang semakin hari semakin mencekik, sementara penghasilan suami tidak
mencukupi. Tapi yang ada, kebanyakan wanita bekerja sekarang adalah untuk
berkarir, eksistensi diri, bosan di rumah, atau memperbanyak harta supaya hidup
lebih nyaman, makan lebih enak, mobil lebih bagus, beli gadget tercanggih, bisa
beli baju dan kerudung model terbaru, dan kebutuhan tertier lainnya.
Bukan pula berarti perempuan tidak boleh sekolah tinggi ke
luar negeri.
Sekolah tinggi tetap perlu, karena sesungguhnya banyak
pelajaran lain yang kita dapatkan dengan pernah menjalani status sebagai
mahasiswi dan lulus. Bukan sekedar belajar ilmu science, engineering
and so on… tapi juga melatih mental, keingintahuan, kemauan untuk
mengembangkan diri, keterbukaan untuk menerima ilmu baru, kemampuan
beradaptasi, daya juang, kefokusan, dan kedisiplinan.
Hal2
itu kan diperlukan untuk persiapan menjadi istri dan ibu yang baik. Karena
semakin tinggi sekolahnya biasanya semakin melek teknologi. Orang yang suka
sekolah (kecuali yang niatnya cari gelar yeee) juga biasanya senang belajar,
senang memperbaharui diri menjadi lebih baik, ingin selalu tahu perkembangan
terbaru, termasuk soal ilmu mendidik anak . Penting sekali bukan sebagai bekal
dalam mendidik anak di era digital ini?
Walaupun, memang harusnya profesi termulia kita itu sebagai
ibu.. mau lulusan S1, S2, atau S3 Harvard, Yale, ataupun Oxford sekalipun…
Sebagai ibu, sekolah tinggi dan tidak bekerja bukan berarti lalu ilmu kita tidak
terpakai… tetaplah, sekolah tinggi membentuk dan atau mengubah cara berpikir
seseorang (in a good way). Tentunya bedalah pola pikir seorang lulusan
SMP dan lulusan SMA. Beda pula cara berpikir, motivasi, dan cita2 seorang
lulusan sekolah di pedalaman dan seorang lulusan sekolah di kota metropolitan.
Maka dari itu, boleh banget perempuan sekolah tinggi ke luar
negeri. Btw, ibu Elly juga kan bisa jadi seperti sekarang ini, bisa cerita
macam2 tentang ilmu soal parenting ini, tentunya tidak lepas dari kontribusi
ilmu yang dia dapatkan ketika kuliah psikologi, training2 tentang parenting dan
pengalamannya mengajar TK dan interaksinya dengan berbagai orang selama tinggal
di US.
Hanya
saja, idealnya… (catat ya, idealnya) … kalau bisa ya sekolah tinggi di luar
negeri dilakukan sebelum menikah gitu, ketika belum punya tanggung jawab
sebagai ibu (jangan seperti saya :(( ). Atau, boyong saja anak dan bapaknya
sekalian. Atau lakukan ketika sedang ikut suami yang sekolah/kerja di luar.
Walaupun kesibukan kuliah di luar negeri menyita waktu, mungkin itu jauh lebih
baik daripada berpisah sementara dengan anak dan bapaknya di tanah air
bertahun2. Alternatif lain, ya menikah muda, segera punya anak, naah… kuliah ke
luar negerinya ketika anak sudah agak besar, jadi kitanya tidak terlalu repot
dan si anak tidak memerlukan perhatian sebanyak ketika dia masih balita.
Walaupun, kalau menurut ibu Elly, untuk yang punya anak
balita, idealnya salah satu dari orang tuanya ada di rumah untuk concern
mengasuh anak. Kalau bapaknya yang punya karir bagus dan penghasilan lebih
besar, ya ibunya di rumah saja. Begitu pula sebaliknya. Kalaupun terdesak
kebutuhan ekonomi, win-win solution-nya barangkali bekerja atau
menjalankan bisnis dari rumah ya, yang bisa disambi2 sambil mengasuh anak. Orang
tua itu tim, harus bisa bagi2 peran. Kalau anak2 sudah agak besar, sudah bisa
mandiri dan banyak kegiatan, bolehlah kedua orang tua kembali berkarir.
………………………………………………………..
Finally…
Tidak
terasa 3.5 jam lebih telah berlalu. Tertohok rasanya mendengarkan wejangan2
dari ibu Elly. Jadi merasa sangaaatt bersalah. Rasanya mendadak kangen anak dan
ingin memeluknya, minta maaf atas kelalaian kita dalam mengasuhnya.
Kalau kita pulang kantor dan mendapati anak kita terluka
akibat keteledoran si baby sitter, kira2 apa reaksi kita? Marah?
Kesal? Kecewa? Kalau lukanya terlalu parah,bisa jadi si baby sitter langsung
kita pecat.
Bayangkanlah
reaksi Allah SWT jika mengetahui kelalaian kita dalam mendidik anak, sehingga
si anak jauh dari Allah SWT, mempunyai akhlak yang buruk, menderita kerusakan
otak, dll yang jelek2.
Ketika
anak lahir, Allah SWT menitipkannya kepada kita dalam keadaan suci, murni,
bersih, seperti kertas putih. Akankah kita mewarnai kertas itu dengan gambar
yang bagus dan penuh warna warni indah? Ataukah kita mencoret2nya dengan
lukisan benang kusut berwarna hitam suram yang catnya belepotan?
Petuah
ibu Elly bahwa kita ini baby sitter-nya Allah SWT terus terngiang2 di kepala.
So, untuk seluruh orang tua yang
peduli dengan keimanan, pendidikan dan pembentukan akhlak anak2nya…
Selamat
berjuang!
Veel success!!
Ganbatte!!!

0 Response to "Sesi 3 "Mendidik Anak di Era Digital" Oleh Ibu Elly Risman"
Posting Komentar