ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Mendidik Anak Di Era DIGITAL
oleh Ibu Elly Risman
![]() |
| Mendidik Anak Di Era DIGITAL Oleh Ibu Elly Risman |
Hari sabtu 19 april yang lalu, jadi
juga saya datang ke seminarnya ibu Elly Risman, yang diselenggarakan oleh SMPIT
Harapan Bunda, dengan tema ‘Mendidik Anak di Era Digital’. Walau bersamaan
dengan acaranya HUT sekolahnya Saskia yang digabung dengan perayaan hari
Kartini, alhamdulillah pappanya mau dibagi tugas untuk menemani anaknya ikutan
lomba.
Lha kan
seminar ini penting juga. Berisi issue dan ilmu parenting terkini. Ilmu yang
tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah/kuliah, kecuali kita kuliah di bidang
ilmu psikologi jurusan ilmu pendidikan anak… Ya, kan? Ya kaaann??
Sesuai
kesepakatan yang datang dari permintaan ibu Elly kepada audiens seminarnya,
yaitu untuk berbagi informasi tentang isi seminar ini ke –minimal– 3 orang yang
kita kenal (or even more, is better),
maka saya tulis saja di sini. Biar tidak capek bolak-balik cerita panjang, juga
untuk mencegah lupa detail materi seminarnya. Kenapa penting untuk dibagi ke
banyak orang tua? Supaya makin banyak orang tua yang peduli dan waspada… Kan
anak kita kita tidak main sendiri… kan anak kita main sama sepupunya…, sama
anak tetangga, dan juga teman sekolahnya. Kalau informasi ini tidak kita bagi,
nanti kita sudah didik bener anak kita, eh terpengaruh temannya yang orang
tuanya tidak peduli masalah ini…
Tulisan ini
akan dibagi menjadi 3 posts, sesuai jumlah sesi yang ada di seminarnya. Supaya
tidak kepanjangan tulisannya. Yuk mari kita mulai saja…
Sesi
pertama
Seminar dibuka
dengan cuplikan2 berita, contoh2 nyata kasus2 yang berkaitan dengan tindakan2
amoral dan asusila yang dilakukan oleh anak2, ataupun dilakukan oleh orang
dewasa kepada anak2 sebagai korbannya.
Siapa yang
tidak tahu kasus JIS? Kasus anak SMP 4 Jakarta? Kasus perk*saan, ataupun suka
sama suka yang bahkan kita tidak sangka pelakunya masih berusia SD (!!!), atau
dilakukan oleh orang2 dekat korban. Jangan bahas lagi kalau ke pacar ya… Bukan
1-2 kasus lho yang dilakukan bapak ke anak, kakak ke adik, paman ke keponakan
(yang masih bayi 8 bulan!), guru ke murid, dan bahkan ustad ke santri! (ehh ustad
juga manusia lho…). Belum lagi kasus2 penyimpangan seksual, macam lesbi, homo,
biseksual dan transgender, juga pedofil… Melakukan hubungan s*ksual beramai2,
atau ditonton teman2. Bahkan melakukannya dengan binatang!
Banyak orang
tua yang merasa ‘anak saya baik2 saja kok’ atau ‘anak saya tidak mungkin
melakukan hal yang tidak2’ atau ‘anak saya masih polos, jadi tidak mungkin
berbuat yang aneh2′ atau ‘saya sudah menyekolahkan anak2 saya di sekolah dan
lingkungan yang baik dan agamis, jadi tidak mungkin berbuat begitu’. Eittss,
jangan salaaahh… Ibu Elly pernah menangani kasus yang pelakunya anak lelaki SMP
kelas 1 (dengan pacarnya anak perempuan kelas 2 SMP), yang mukanya culun punya,
tidak menyangka deh itu anak sudah mengerti hal2 ‘begituan’. Mana anaknya juga
rajin sholat dan pintar mengaji.
Ada juga
seorang ayah yang melapor anak perempuannya (yang masih SMP) diperk*sa oleh
teman sekolahnya. Eeh, begitu anak perempuannya itu ditanya, mereka
melakukannya atas dasar suka sama suka. Si ayah tidak percaya, dia bilang bahwa
anaknya itu juara fisika. So what gitu kalau anak lo juara fisika?!
Kasus lain, si
anak perempuan (lagi2 masih SMP!), melakukannya dengan teman lelakinya di balik
pintu kelas, dengan direkam oleh teman2nya, dengan pakaian lengkap, dan dengan
durasi tidak lebih dari 5 menit. Oh ya, si perempuan itu berpakaian muslimah
lho, alias berkerudung. (Jangan lupa ya, jangankan perempuan berkerudung,
bahkan ustad juga manusia yaa, bukan orang suci yang tidak mungkin melakukan
perbuatan berdosa besar).
Tidak perlu
diceritakan lebih jauh ya, saya saja jijik dengan beritanya. Buanyaaakk banget
kasus2 yang beliau beberkan, baik dari media internet, TV, youtube, hingga
contoh kasus2 dari klien beliau yang ditanganinya sendiri. Kami para audiens
yang didominasi ibu2 sampai terhenyak, dan barangkali seperti saya juga yang
jadi banyak ber-istighfar dalam hati, dan berdoa, “ya Allah, semoga itu tidak
terjadi pada anakku…”
Bisa dibilang
kasus JIS mencuat karena nama besar JIS. Sehingga kita dan pemerintah lebih perhatian.
Kalau kasus tersebut terjadi pada anak TK kecil di pedalaman Kalimantan atau
Papua, akankah jadi besar seperti sekarang? Seperti juga kasus video
Ariel-Luna, apakah orang sebegitu hebohnya kalau pelakunya hanya masyarakat
biasa?
Padahal selama
ini sebenarnya amat sangat banyak kasus2 lain yang tersebar di 33 provinsi di
Indonesia ini, yang bahkan lebih buruk dari kasus2 yang disebutkan di atas,
tapi hanya numpang lewat di berita pagi, siang atau sore di TV. Tanpa pernah
dibahas dan dipersoalkan lebih lanjut kenapa itu bisa terjadi, diiringi
tindakan nyata aksi apa yang harus kita lakukan untuk melawan dan memberantas
hal2 tersebut.
Miris.
Prihatin.
Sesekali ibu
Elly menitikkan air mata, atau bicara dengan emosi meluap dan dengan suara
sedikit bergetar.Beliau (dan kita semua juga semestinya) kesal bukan main,
kenapa bangsa Indonesia khususnya orang tua banyak yang ‘pingsan’. Ya, kita
bukannya tidak pernah dengar tentang kasus2 tersebut kan. Tapi apa yang kita
lakukan?
Sebagian besar
barangkali menjawab tidak ada. Tidak memikirkannya. Cuek. Apatis. Tidak peduli.
Masa bodoh ah, yang penting bukan anak saya! Yang penting saya mengajari anak
saya yang baik2. Saya sudah menyekolahkannya di sekolah berbasis agama, yang
lingkungannya baik. Jadi anak saya pasti baik2 saja.
Yakiiin?
Kan anak kita
main sama anak tetangga… kan anak kita main sama sepupunya… kan anak kita
bergaul dengan banyak teman di sekolahnya… kan anak kita suka nonton TV… kan
anak kita, kita kasih hp yang bisa internetan… kalaupun tidak, kan teman2 anak
kita (bisa jadi) punya hp yang bisa internetan itu…
Yuk mari,
terutama yang sudah punya anak, yuk mulai peduli dengan bencana nasional ini.
Mulai menganggapnya masalah serius. Siapa lagi yang mau peduli kalau bukan kita
sebagai orang tua dari tunas2 bangsa, pemegang tongkat estafet masa depan
Indonesia…
…to be
continued…

0 Response to "Mendidik Anak Di Era DIGITAL Oleh Ibu Elly Risman"
Posting Komentar